Ada satu pengalaman yang begitu membekas di hatiku, sebuah momen sederhana namun penuh makna tentang sukacita dan toleransi dalam keluarga. Saat Hari Lebaran tiba, suasana dipenuhi dengan kehangata, tawa, dan kebersamaan. Namun di balik itu, ada perbedaan yang selama ini kami hidupi dengan damai aku dan abang ku dari anak mak tua ku, bahkan adek mamak ku yang perempuan yang paling kecil memiliki keyakinan yang berbeda dengan kami semua, kami memiliki keyakinan sebagai orang yang mengikuti Kristus dan abg ku serta adek mamak ku terbanding terbalik malah memeluk agama muslim. Awalnya, aku sempat merasa ragu. Dalam hati, aku bertanya-tanya, apakah pantas aku mengucapkan Selamat Hari Lebaran kepadanya. Takut jika ucapanku terasa tidak tepat atau bahkan menyinggung. Tapi di sisi lain, aku merasa bahwa sebagai saudara, kasih dan kebersamaan seharusnya lebih besar dari pada perbedaan yang ada. Dengan sedikit keberanian, aku menelefon dan mengucapkan selamat Idul Fitri selamat lebaran ya inanguda dan abg ku. Mereka Tersenyum mendengar aku mengucapkan hal tersebut. Aku pun tersenyum dan berkata dengan tulus, “Bang, Inanguda selamat Hari Raya, ya. Mohon maaf lahir dan batin. Sesaat aku menunggu reaksinya, dan ternyata yang kudapatkan adalah senyum hangat dan abg jugak inanguda ku menjawab ada jel sedikit THR inanguda, dan abg jugak mengatakan itu dan mereka meminta no rek ku. Inanguda dan abg ku menjawab Makasih, ya Boru, Makasih dek, sekalipun kita beda agama tapi tetap kau mau menghubungi abg dan inanguda mu, sekalipun kau ngambil jurusan reologi kau malah merangkul bahkan gk pernah menjahui inanguda dan abg mu ini, Senang banget aku mendengar begitu. Di momen itu, hatiku terasa penuh. Ada sukacita yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Bukan sekadar karena aku mengucapkan selamat, tetapi karena aku merasakan bahwa hubungan kami tidak dibatasi oleh perbedaan iman. Justru di sanalah kasih kami diuji dan dikuatkan. Aku menyadari bahwa toleransi bukan hanya konsep yang sering dibicarakan, tetapi sesuatu yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Menghormati, menghargai, dan tetap menunjukkan kasih adalah bentuk toleransi yang paling sederhana, namun paling bermakna. Dan dari pengalaman itu, aku belajar bahwa sukacita sejati muncul ketika kita mampu mengasihi tanpa syarat. Pengalaman ini juga mengingatkanku pada firman Tuhan dalam Alkitab: Sedapat dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang. Roma 12:18 Ayat ini seakan menegaskan bahwa sebagai manusia, kita dipanggil untuk membawa damai, termasuk di tengah perbedaan. Bukan memaksakan kehendak, tetapi menghadirkan kasih. Selain itu, ada juga firman yang sangat menyentuh hatiku: Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. 1 Korintus 13:4 Dari ayat ini aku belajar bahwa kasih sejati tidak mengenal batas. Kasih tidak memilih kepada siapa ia diberikan, tetapi mengalir kepada semua orang, termasuk kepada mereka yang berbeda dengan kita. Sejak saat itu, aku tidak lagi ragu untuk menunjukkan sikap toleransi dalam keluarga. Justru aku merasa bersyukur memiliki kesempatan untuk belajar mengasihi dengan cara yang lebih dalam. Sukacita yang kurasakan bukan berasal dari kesamaan, melainkan dari kemampuan untuk tetap bersatu dalam perbedaan. Pengalaman sederhana itu mengajarkanku bahwa keluarga adalah tempat di mana kasih seharusnya tumbuh paling kuat. Dan ketika kasih itu diwujudkan dalam bentuk toleransi, maka di situlah sukacita sejati hadir tenang, hangat, dan penuh damai.

Komentar