Langsung ke konten utama
Dimana saya membuat diri saya tenang, Tapi sebenarnya, di dalam hati saya lagi banyak pikiran. masalah keluarga keluarga, masalah opung, dan memikirkan kapan saya tamat sementara adek saya sebentar lagi mau tamat SMA, saya gk mau orang tua saya terbebani dalam ke uangan, saya gk mau harapan dan cita cita adek saya tertunda gara gara saya, saya sering merasa sendirian, walaupun di sekelilingnya saya banyak orang. Suatu hari, saya pulang kuliah dengan perasaan capek banget. Bukan cuma capek fisik, tapi juga capek hati. Sampai di kamar, saya rebahan sambil lihat plafon, dan dalam hati saya bilang, Tuhan, aku harus gimana sih? Tuhan jadinya aku nantik jadi pendeta? Tuhan aku belum bisa ngasih apa apa ke orang tua ku, mampukan aku Tuhan membayar keringat orang tua ku melalui kesuksesan ku, Tuhan berdiri didepan Tapi aku merasa sendiri saya merasa doa saya seperti gak didengar. Karena bingung, saya ambil Alkitab. saya buka secara acak, dan saya carik ayat yang menyentuh didalam pergumulan saya, mata saya tertuju ke pada satu ayat yang terambil dari Filipi 4:6-7: “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Awalnya saya cuma baca sekilas. Tapi makin saya baca terus menerus, saya mulai mikir, Berarti selama ini saya terlalu banyak khawatir, tapi jarang benar benar cerita sama Tuhan. saya sadar, selama ini saya lebih sering menyimpan semuanya sendiri. Akhirnya malam, saya coba hal yang sederhana. saya mulai berdoa, bukan doa yang formal, tapi seperti curhat. saya cerita semua rasa takut gagal, bahkan rasa kecewa saya. saya ngomong apa adanya, tanpa dibuat buat. memang masalah saya belum langsung selesai. keadaan keluarga juga belum berubah. Tapi anehnya, hatinya saya terasa lebih tenang. Seperti ada beban yang dilepas sedikit demi sedikit. Hari-hari berikutnya, saya mulai membiasakan hal itu. Setiap kali merasa cemas, saya ingat ayat tadi. saya belajar untuk gak menahan semuanya sendiri, tapi menyerahkan kekhawatiran saya kepada Tuhan. Kadang saya masih khawatir, tapi sekarang saya tahu harus bawa itu ke dalam doa, serta harus sabar dalam menjalani proses yang saya jalani.
Postingan populer dari blog ini
Komentar
Posting Komentar