saya masih ingat hari ketika tagihan uang kuliah itu datang, terasa seperti beban yang jatuh tepat di dadaku. Angkanya tidak hanya sekadar deretan digit, tetapi seperti pengingat akan keadaan keluargaku yang sedang berjuang. Orang tuaku tidak pernah benar-benar mengatakan bahwa mereka kesulitan, tetapi aku bisa melihatnya dari cara mereka berbicara yang lebih pelan tentang uang, dari keputusan keputusan kecil yang berubah, dari pengorbanan yang tidak pernah mereka sebutkan. Setiap kali aku duduk di kelas, ada perasaan bersalah yang diam diam muncul. Seharusnya aku fokus belajar, tetapi pikiranku sering melayang: aku selalu bertanyak dalam hati ku Bagaimana kalau aku tidak bisa lanjut semester depan? atau Apakah semua ini terlalu berat untuk keluarga kami? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar tanpa henti, membuatku merasa lelah bahkan sebelum hari benar-benar dimulai. Di rumah, suasana juga berubah. Kami masih tertawa, masih makan bersama, tetapi ada sesuatu yang berbeda seperti ada kekhawatiran yang disembunyikan di balik senyuman. Aku pernah mendengar dari abang ku bahwasannya orang tuaku berbicara pelan di malam hari, mencoba mencari cara agar aku tetap bisa kuliah. Saat itu aku sadar, perjuangan ini bukan hanya milikku, tetapi juga perjuangan mereka. Ada momen ketika aku hampir menyerah. Aku berpikir untuk berhenti kuliah sementara, mencari pekerjaan, dan membantu meringankan beban keluarga. Rasanya itu pilihan yang masuk akal. Namun di dalam hati kecilku, ada suara yang berkata bahwa aku tidak boleh berhenti begitu saja. Bahwa semua ini ada tujuannya. Di tengah pergumulan itu, aku mulai belajar untuk berserah. Tidak mudah, karena sebagai manusia aku ingin semuanya jelas dan pasti. Aku ingin tahu bagaimana caranya uang itu akan terkumpul, dari mana datangnya, dan kapan masalah ini akan selesai. Tetapi perlahan aku mengerti, bahwa tidak semua hal harus aku kendalikan. Aku mulai berdoa dengan lebih jujur. Bukan lagi doa yang penuh kata-kata indah, tetapi doa yang sederhana: Tuhan, aku takut. Aku tidak tahu harus bagaimana. Tolong aku. Dan di saat saat seperti itu, ada ketenangan yang sulit dijelaskan. Masalahnya belum hilang, tetapi hatiku tidak lagi seberat sebelumnya. Aku juga mulai melihat hal hal kecil sebagai bentuk pertolongan dimana awal aku masuk kuliah 2 orang abg saya yang bantu uang kuliah, akan tetapi ketika adek saya mau tamat SMA adek saya mengatakan bahwasannya dia ingin melamar tentara, besar pengorbanan adek saya, yang dimana dia mencobak untuk mengalah yang dulunya dia ingin SMAnya ditaruna, tapi dia mengatakan ke saya dan orang tua saya bahkan ke abg saya, dia mengatakan mak, pak, bang, biarlah aku SMA di Negri biarlah kakak dulu yang kalian bantu, tapi kalaupun kakak belum siap, aku siap menunggu kakak untuk selesai kuliah, disitu saya gak bisa menahan air mata saya melihat pengorbanan adek saya yang mau ngalah sementara dia anak laki laki, tapi dia berusaha supaya kakaknya masa depannya bisa tercapai, dan adek saya yang bantu memberi uang jajan saya, adek saya ikut kerja, seperti bongkar kandang ayam, bersihkan kandang ayam, dan ikut kerja menjaga kandang ayam sampai jam 5 pagi baru pulang dari jaga kandang ayam, disitu saya terharu, sampai adek saya bilang ada uang mu kak, kalau gk ada jangan kakak tahan, bilang aja aku kak, selalu bilang ke adek ada dek, bahkan aku mencobak mendownload aplikasi yang bisa mengahsilkan uang yah walaupun sedit tapi itu sangat cukup bagi saya, bahkan saya kepengen membelik bedak, saya kumpulkan uang yang dikasih abg dari bulan 1 sampai bulan 3, saya berusaha untuk hemat, itulah alasan saya gk sukak boros, karna saya jugak pernah merasakan sakitnya kerja, kami bantu orang tua kami kerja diladang orang, saya bantu mendorongkan buah pakai angkong, jadi itu yang membuat saya bertahan sampai sekarang, sekalipun banyak masalah saya silih berganti, karna saya ingat pengorbanan, bahkan ketulusan hati adek saya mau mengalah demi saya, bahkan kekuatan untuk tetap bertahan setiap hari. Semua itu membuatku percaya bahwa aku tidak berjalan sendirian. Salah satu ayat yang terus menguatkanku adalah Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. (1 Petrus 5:7) Ayat ini menjadi pengingat bahwa aku tidak harus memikul semuanya sendiri. Bahwa ada Tuhan yang peduli, yang melihat setiap air mata, setiap kekhawatiran, dan setiap usaha yang aku lakukan. Hari ini, mungkin aku masih berada dalam pergumulan yang sama. Keadaan belum sepenuhnya berubah. Tetapi aku berubah. Aku belajar untuk tetap melangkah meski takut, untuk tetap berharap meski keadaan belum pasti, dan untuk percaya bahwa di balik semua ini, Tuhan sedang bekerja dengan cara Nya sendiri. Dan mungkin, suatu hari nanti, aku akan melihat kembali masa ini bukan sebagai beban, tetapi sebagai bukti bahwa aku pernah bertahan dan tidak pernah ditinggalkan.

Komentar