hari ini saya lelah sekali. rasanya badan mau roboh. tadi siang jam dua saya mulai bereskan kamar. seprai diganti, debu di lemari dilap. baru selesai, napas belum tenang, saya langsung harus piket kamar mandi jam 7 malam, karna saya minggu lalu nggak piket kamar mandi. jadi hari ini dobel. empat kamar mandi harus saya kerjakan sendiri. ember dibersihkan, gayung dibersihkan, lantai disikat. kloset digosok. bau sabun campur capek bikin kepala pusing. yang lainnya sudah istirahat, saya masih jongkok. tangan pegal. punggung panas. keringat jatuh ke lantai yang baru saya pel. sempat saya kesel, dulu saya waktu dibandar baru gk pernah piket wc sendiri biasanya wc di bersihkan pada kerja bakti dihari sabtu itupun gk tiap sabtu kenak saya bersihkan wc karna kerja baktinya berputar dan kalau ada saya kenak kerja bakti wc, hanya 1 wc yang saya bersihkan. tapi saya tarik napas. saya ingat galatia 6:9. di situ dibilang, janganlah kita jemu jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. saya diem. ayat itu kayak bisik di telinga. iya, saya capek. tapi ini bagian saya. ini kerja kecil. kalau saya ngeluh terus, kapan saya belajar setia. empat kamar mandi memang banyak. tapi ini cuma sehari. yesus di kayu salib jauh lebih berat. dia nggak berhenti di tengah jalan. saya lanjut gosok lagi. pelan pelan. sambil doa dalam hati. Tuhan, kasih saya kekuatan. bukan kuat badan aja, tapi kuat hati. biar nggak bersungut. biar nggak itung itungan. kolose 3:23 bilang, apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. selesai jam 7. 45. badan remuk. tapi hati anehnya lega. saya lanjut mandi, lalu saya duduk ditempat tidur yang sudah bersih. wangi malam ini sebelum tidur saya buka alkitab matius 11:28 bilang, marilah kepada-ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, aku akan memberi kelegaan kepadamu. saya tutup mata. saya ngucap syukur. hari ini saya lelah. tapi saya belajar. kerja kecil kalau buat Tuhan, nggak sia sia. besok mungkin masih capek. tapi saya mau coba lagi. nggak jemu. nggak lemah. karena saya kerja bukan buat dilihat orang. saya kerja buat Tuhan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada satu pengalaman yang begitu membekas di hatiku, sebuah momen sederhana namun penuh makna tentang sukacita dan toleransi dalam keluarga. Saat Hari Lebaran tiba, suasana dipenuhi dengan kehangata, tawa, dan kebersamaan. Namun di balik itu, ada perbedaan yang selama ini kami hidupi dengan damai aku dan abang ku dari anak mak tua ku, bahkan adek mamak ku yang perempuan yang paling kecil memiliki keyakinan yang berbeda dengan kami semua, kami memiliki keyakinan sebagai orang yang mengikuti Kristus dan abg ku serta adek mamak ku terbanding terbalik malah memeluk agama muslim. Awalnya, aku sempat merasa ragu. Dalam hati, aku bertanya-tanya, apakah pantas aku mengucapkan Selamat Hari Lebaran kepadanya. Takut jika ucapanku terasa tidak tepat atau bahkan menyinggung. Tapi di sisi lain, aku merasa bahwa sebagai saudara, kasih dan kebersamaan seharusnya lebih besar dari pada perbedaan yang ada. Dengan sedikit keberanian, aku menelefon dan mengucapkan selamat Idul Fitri selamat lebaran ya inanguda dan abg ku. Mereka Tersenyum mendengar aku mengucapkan hal tersebut. Aku pun tersenyum dan berkata dengan tulus, “Bang, Inanguda selamat Hari Raya, ya. Mohon maaf lahir dan batin. Sesaat aku menunggu reaksinya, dan ternyata yang kudapatkan adalah senyum hangat dan abg jugak inanguda ku menjawab ada jel sedikit THR inanguda, dan abg jugak mengatakan itu dan mereka meminta no rek ku. Inanguda dan abg ku menjawab Makasih, ya Boru, Makasih dek, sekalipun kita beda agama tapi tetap kau mau menghubungi abg dan inanguda mu, sekalipun kau ngambil jurusan reologi kau malah merangkul bahkan gk pernah menjahui inanguda dan abg mu ini, Senang banget aku mendengar begitu. Di momen itu, hatiku terasa penuh. Ada sukacita yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Bukan sekadar karena aku mengucapkan selamat, tetapi karena aku merasakan bahwa hubungan kami tidak dibatasi oleh perbedaan iman. Justru di sanalah kasih kami diuji dan dikuatkan. Aku menyadari bahwa toleransi bukan hanya konsep yang sering dibicarakan, tetapi sesuatu yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Menghormati, menghargai, dan tetap menunjukkan kasih adalah bentuk toleransi yang paling sederhana, namun paling bermakna. Dan dari pengalaman itu, aku belajar bahwa sukacita sejati muncul ketika kita mampu mengasihi tanpa syarat. Pengalaman ini juga mengingatkanku pada firman Tuhan dalam Alkitab: Sedapat dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang. Roma 12:18 Ayat ini seakan menegaskan bahwa sebagai manusia, kita dipanggil untuk membawa damai, termasuk di tengah perbedaan. Bukan memaksakan kehendak, tetapi menghadirkan kasih. Selain itu, ada juga firman yang sangat menyentuh hatiku: Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. 1 Korintus 13:4 Dari ayat ini aku belajar bahwa kasih sejati tidak mengenal batas. Kasih tidak memilih kepada siapa ia diberikan, tetapi mengalir kepada semua orang, termasuk kepada mereka yang berbeda dengan kita. Sejak saat itu, aku tidak lagi ragu untuk menunjukkan sikap toleransi dalam keluarga. Justru aku merasa bersyukur memiliki kesempatan untuk belajar mengasihi dengan cara yang lebih dalam. Sukacita yang kurasakan bukan berasal dari kesamaan, melainkan dari kemampuan untuk tetap bersatu dalam perbedaan. Pengalaman sederhana itu mengajarkanku bahwa keluarga adalah tempat di mana kasih seharusnya tumbuh paling kuat. Dan ketika kasih itu diwujudkan dalam bentuk toleransi, maka di situlah sukacita sejati hadir tenang, hangat, dan penuh damai.

pagi ini saya masuk kelas jam sembilan, dosennya pak ab simamora, bapak itu membahas soal keselamatan. yang dimana bapak itu mengatakan keselamatan itu anugerah saya diam di bangku paling depan, sambil denger, kepalaku malah ribut sendiri. saya mikir, kalau keselamatan itu anugerah, berarti bukan karena saya rajin ke gereja, terus saya layak tidak ya? saya berfikir saya sering melawan orang tua, saya sering berantam sama abg, adek saya, kalau standarnya perbuatan, saya merasa saya pasti gagal. pak ab simamora cerita soal yohanes 3:16. katanya karena begitu besar kasih allah akan dunia ini, sehingga ia telah mengaruniakan anak nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal, bapak itu ulang kata setiap orang yang percaya, bukan setiap orang yang sempurna. bukan setiap orang yang hebat. jantung saya agak tenang dengarnya, ternyata yang dituntut bukan layak atau tidak, tapi percaya atau tidak, saya bukan diselamatkan karena saya baik, tapi karena tuhan itu baik. kalau nunggu saya layak, sampai kapan pun tidak akan sampai. kelas selesai jam 11. saya jalan ke asrama sambil mikir terus saya layak tidak ya sampai kamar, saya buka alkitab. kebuka di efesus 2:8-9 sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman, itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian allah, itu bukan hasil pekerjaanmu jangan ada orang yang memegahkan diri, ayat itu nyambung sekali sama kelas tadi. hari ini saya bersyukur karena kuliah jam sembilan itu. bersyukur karena pak ab simamora bahas keselamatan. bersyukur karena diingatkan, saya tidak perlu jadi layak dulu baru datang. saya datang karena tidak layak, dan itu yang bikin anugerah jadi indah. malam ini saya tidur dengan satu kalimat di kepala saya diselamatkan bukan karena saya, tapi karena dia.

1 Tesalonika 5:18. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu, saya termotifasi dengan nast alkitab ini karna dimana dulu saya dipertemukan Tuhan kepada bapak tarigan untuk melakukan pastoral dimana bapak ini dulunya seorang sintua (majelis) di gereja GBKP di jalan simpang bukum, sekalipun bapak ini tidak lagi menjadi seorang majelis digereja karna keterbatasannya dimana bapak ini terkenak struk, akan tetapi itu tidak menjadi penghalang bagi bapak ini untuk mengikuti ibadah, bahkan sekalipun bibir dan tangan kaku untuk digerakkan tetapi semangat dalam memuji Tuhan sangat luar biasa, dengan tangisan dan dengan kerinduannya untuk mendapatkan kesembuhan dari Tuhan, sekalipun bapak arifini memiliki keterbatasan namun senantiasa bapak ini mengucap syukur dalam segala hal