hari ini hari libur. dari pagi saya sudah niat nggak mau ke mana mana. pintu kamar saya tutup. dunia di luar biar jalan sendiri. hari ini full milik saya, milik kasur, dan milik novel di hp. saya bangun jam tujuh Yang biasanya bangun jam tengah 5 atau jam 5, pelan pelan. enggak ada tugas. enggak ada kelas. rasanya damai. saya ambil hp, buka novel yang kemarin belum selesai. ceritanya tentang anak rantau yang pulang ke desa. saya tiduran tengkurap, lalu terlentang, lalu miring ke kiri. bantal saya peluk dunia serasa berhenti. siang lewat. perut lapar, saya makan sambil baca novel, habis makan lanjut baca lagi. satu bab, dua bab, tiga bab. tapi lama lama mata saya capek. kepala juga penuh. cerita di novel mulai nggak masuk. saya scroll lagi, tapi hati sudah nggak di situ. damai tadi pelan pelan berubah jadi sepi. sepi berubah jadi jenuh. saya taruh hp. lihat plafon. kamar yang tadi terasa surga, sekarang kayak kotak. saya bengong. nggak ada teman ngobrol. nggak ada suara. cuma kipas angin. saya ambil hp lagi. kali ini buka video. satu video lucu, ketawa dikit. terus lanjut video lain. satu jam lewat. dua jam lewat. tapi habis nonton, jenuhnya malah nambah. hati kosong. kayak ada yang kurang. saya diem. saya mikir. kenapa ya hari libur yang saya tunggu tunggu, ujungnya malah hampa. saya buka alkitab di hp. saya baca pengkhotbah 3:1. untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya. ada waktu untuk diam, ada waktu untuk bergerak. saya baru sadar. saya paksa hari ini cuma diam, padahal jiwa saya butuh seimbang. saya juga ingat mazmur 46:11. diamlah dan ketahuilah, bahwa akulah Allah. tadi saya diam, tapi nggak ketemu Tuhan. saya cuma ketemu layar. damai bukan karena libur dan nggak ke mana.mana. damai itu karena hati dekat sama Tuhan. saya jenuh karena saya isi waktu dengan novel dan video terus, tapi lupa isi hati dengan firman. sore ini saya tutup hp. saya duduk di pinggir kasur. saya doa. Tuhan, terima kasih buat libur. terima kasih buat damai tadi pagi. ajar aku pakai waktu. biar istirahatku nggak kosong, tapi sungguh memulihkan sama Engkau. habis doa, jenuhnya pelan pelan hilang. kamar masih sama. tapi hati saya udah beda.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada satu pengalaman yang begitu membekas di hatiku, sebuah momen sederhana namun penuh makna tentang sukacita dan toleransi dalam keluarga. Saat Hari Lebaran tiba, suasana dipenuhi dengan kehangata, tawa, dan kebersamaan. Namun di balik itu, ada perbedaan yang selama ini kami hidupi dengan damai aku dan abang ku dari anak mak tua ku, bahkan adek mamak ku yang perempuan yang paling kecil memiliki keyakinan yang berbeda dengan kami semua, kami memiliki keyakinan sebagai orang yang mengikuti Kristus dan abg ku serta adek mamak ku terbanding terbalik malah memeluk agama muslim. Awalnya, aku sempat merasa ragu. Dalam hati, aku bertanya-tanya, apakah pantas aku mengucapkan Selamat Hari Lebaran kepadanya. Takut jika ucapanku terasa tidak tepat atau bahkan menyinggung. Tapi di sisi lain, aku merasa bahwa sebagai saudara, kasih dan kebersamaan seharusnya lebih besar dari pada perbedaan yang ada. Dengan sedikit keberanian, aku menelefon dan mengucapkan selamat Idul Fitri selamat lebaran ya inanguda dan abg ku. Mereka Tersenyum mendengar aku mengucapkan hal tersebut. Aku pun tersenyum dan berkata dengan tulus, “Bang, Inanguda selamat Hari Raya, ya. Mohon maaf lahir dan batin. Sesaat aku menunggu reaksinya, dan ternyata yang kudapatkan adalah senyum hangat dan abg jugak inanguda ku menjawab ada jel sedikit THR inanguda, dan abg jugak mengatakan itu dan mereka meminta no rek ku. Inanguda dan abg ku menjawab Makasih, ya Boru, Makasih dek, sekalipun kita beda agama tapi tetap kau mau menghubungi abg dan inanguda mu, sekalipun kau ngambil jurusan reologi kau malah merangkul bahkan gk pernah menjahui inanguda dan abg mu ini, Senang banget aku mendengar begitu. Di momen itu, hatiku terasa penuh. Ada sukacita yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Bukan sekadar karena aku mengucapkan selamat, tetapi karena aku merasakan bahwa hubungan kami tidak dibatasi oleh perbedaan iman. Justru di sanalah kasih kami diuji dan dikuatkan. Aku menyadari bahwa toleransi bukan hanya konsep yang sering dibicarakan, tetapi sesuatu yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Menghormati, menghargai, dan tetap menunjukkan kasih adalah bentuk toleransi yang paling sederhana, namun paling bermakna. Dan dari pengalaman itu, aku belajar bahwa sukacita sejati muncul ketika kita mampu mengasihi tanpa syarat. Pengalaman ini juga mengingatkanku pada firman Tuhan dalam Alkitab: Sedapat dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang. Roma 12:18 Ayat ini seakan menegaskan bahwa sebagai manusia, kita dipanggil untuk membawa damai, termasuk di tengah perbedaan. Bukan memaksakan kehendak, tetapi menghadirkan kasih. Selain itu, ada juga firman yang sangat menyentuh hatiku: Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. 1 Korintus 13:4 Dari ayat ini aku belajar bahwa kasih sejati tidak mengenal batas. Kasih tidak memilih kepada siapa ia diberikan, tetapi mengalir kepada semua orang, termasuk kepada mereka yang berbeda dengan kita. Sejak saat itu, aku tidak lagi ragu untuk menunjukkan sikap toleransi dalam keluarga. Justru aku merasa bersyukur memiliki kesempatan untuk belajar mengasihi dengan cara yang lebih dalam. Sukacita yang kurasakan bukan berasal dari kesamaan, melainkan dari kemampuan untuk tetap bersatu dalam perbedaan. Pengalaman sederhana itu mengajarkanku bahwa keluarga adalah tempat di mana kasih seharusnya tumbuh paling kuat. Dan ketika kasih itu diwujudkan dalam bentuk toleransi, maka di situlah sukacita sejati hadir tenang, hangat, dan penuh damai.

pagi ini saya masuk kelas jam sembilan, dosennya pak ab simamora, bapak itu membahas soal keselamatan. yang dimana bapak itu mengatakan keselamatan itu anugerah saya diam di bangku paling depan, sambil denger, kepalaku malah ribut sendiri. saya mikir, kalau keselamatan itu anugerah, berarti bukan karena saya rajin ke gereja, terus saya layak tidak ya? saya berfikir saya sering melawan orang tua, saya sering berantam sama abg, adek saya, kalau standarnya perbuatan, saya merasa saya pasti gagal. pak ab simamora cerita soal yohanes 3:16. katanya karena begitu besar kasih allah akan dunia ini, sehingga ia telah mengaruniakan anak nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal, bapak itu ulang kata setiap orang yang percaya, bukan setiap orang yang sempurna. bukan setiap orang yang hebat. jantung saya agak tenang dengarnya, ternyata yang dituntut bukan layak atau tidak, tapi percaya atau tidak, saya bukan diselamatkan karena saya baik, tapi karena tuhan itu baik. kalau nunggu saya layak, sampai kapan pun tidak akan sampai. kelas selesai jam 11. saya jalan ke asrama sambil mikir terus saya layak tidak ya sampai kamar, saya buka alkitab. kebuka di efesus 2:8-9 sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman, itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian allah, itu bukan hasil pekerjaanmu jangan ada orang yang memegahkan diri, ayat itu nyambung sekali sama kelas tadi. hari ini saya bersyukur karena kuliah jam sembilan itu. bersyukur karena pak ab simamora bahas keselamatan. bersyukur karena diingatkan, saya tidak perlu jadi layak dulu baru datang. saya datang karena tidak layak, dan itu yang bikin anugerah jadi indah. malam ini saya tidur dengan satu kalimat di kepala saya diselamatkan bukan karena saya, tapi karena dia.

1 Tesalonika 5:18. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu, saya termotifasi dengan nast alkitab ini karna dimana dulu saya dipertemukan Tuhan kepada bapak tarigan untuk melakukan pastoral dimana bapak ini dulunya seorang sintua (majelis) di gereja GBKP di jalan simpang bukum, sekalipun bapak ini tidak lagi menjadi seorang majelis digereja karna keterbatasannya dimana bapak ini terkenak struk, akan tetapi itu tidak menjadi penghalang bagi bapak ini untuk mengikuti ibadah, bahkan sekalipun bibir dan tangan kaku untuk digerakkan tetapi semangat dalam memuji Tuhan sangat luar biasa, dengan tangisan dan dengan kerinduannya untuk mendapatkan kesembuhan dari Tuhan, sekalipun bapak arifini memiliki keterbatasan namun senantiasa bapak ini mengucap syukur dalam segala hal