Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2026

hari ini saya sangat bahagia tadi soreh kami melakukan olahraga seluruh mahasiswa mengikuti olahraga dan saya mengikuti permainan badminton dan permainan futsal putri dan saya bahagia karna dimana saya tidak sengaja meneskan air mata dimana saya langsung mengucapkan didalam hati saya, jakarta yang dulunya mustahil untuk saya ada disana tapi Tuhan kasih saya kesempatan untuk datang dan untuk melihat gedung gedung yang besar, yang dimana saya merasa ini bukan suatu kebutulan melainkan karna berkat Tuhan, saya dulunya gk pernah merasakan tempat lapangan bola yang begitu bagus sekarang saya bisa ada dan bisa merasakannya, saya mencarik nast alkitab tentang bersyukur yang tertulis dalam nast kolose 3:17 firman Tuhan berkata Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap Syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita

Saya membayangkan saat ini, saya sedang melakukan video call VC dengan mamak saya, dan saya bisa melihat wajah mamak saya yang sedang bersemangat tapi juga sedikit sedih karena akan berangkat ke Medan untuk menghadiri pernikahan keluarga. Mamak saya berkata, Nak, mamak akan berangkat ke Medan besok pagi. Mamak akan menghadiri pernikahan sepupu kamu. Saya bisa merasakan sedikit kesedihan dalam suaranya, karena mamak saya akan meninggalkan saya dan keluarga untuk beberapa hari. Saya menjawab, iaa, mak. Mamah pergi aja, gak papa. Kita doakan saja semoga acaranya lancar dan mamak bisa ketemu sama keluarga di Medan." Mamah saya tersenyum dan berkata, "Iaa, nak. Mamah akan doakan kamu dan keluarga juga. Kamu jaga diri sendiri ya, jangan lupa makan dan minum yang teratur. Saya ingat kata-kata Tuhan dalam Filipi 4:6-7, Janganlah kamu khawatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Dan damai sejahtera Allah, yang mellebihi segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. Saya berkata, Iaa, mak. Mamah juga jaga diri sendiri di Medan, jangan lupa bawa payung dan jaket tebal. Cuaca di Medan kan lagi dingin. Dan jangan lupa doakan kita semua ya, mak. Mamah saya tersenyum dan berkata, Iaa, nak. Mamah akan doakan kita semua. Kamu juga jangan lupa doakan mamah ya. Saya merasa bahwa mamak saya selalu ada di hati saya, dan saya akan selalu doakan mamak saya. Saya ingat kata-kata Tuhan dalam 1 Tesalonika 5:11, Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan membangunlah seorang akan yang lain, seperti yang kamu lakukan juga. Saya menutup VC dengan mamak saya, dan saya merasa sedikit sedih karena akan berpisah dengan mamak saya untuk beberapa hari. Tapi saya juga merasa bahagia karena mamak saya akan menghadiri pernikahan keluarga dan bisa ketemu dengan keluarga di Medan.

Saya membayangkan saat ini, saya sedang berbicara dengan bapak saya melalui video call vc, dan saya melihat bapak saya menangis. Saya merasa hati saya terenyuh, karena saya tahu bahwa bapak saya sangat merindukan saya. Saya juga tahu bahwa opung sedang sakit-sakitan, dan itu membuat bapak saya sangat khawatir. Saya ingat kata-kata Tuhan dalam Mazmur 34:18, TUHAN dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya." Tuhan selalu dekat dengan kita ketika kita sedang mengalami kesulitan dan kesedihan. Bapak saya sedang mengalami kesedihan karena opung sakit-sakitan, dan saya tahu bahwa Tuhan ada di sampingnya. Saya juga ingat kata-kata Tuhan dalam Yesaya 41:10, janganlah takut, sebab Aku ada dengan engkau; janganlah bimbang, sebab Aku adalah Tuhanmu, Aku akan menguatkan engkau, bahkan Aku akan menolong engkau Aku akan menopang engkau dengan tangan kanan Aku yang benar. Tuhan menjanjikan bahwa Dia akan selalu ada dengan kita, dan Dia akan menolong kita dalam kesulitan. Saya merasa ingin sekali berada di samping bapak saya, memeluknya, dan memberikan dukungan kepadanya. Tapi saya tahu bahwa saya tidak bisa berada di sana secara fisik, jadi saya harus memberikan dukungan melalui doa dan kata-kata yang lembut. Saya berkata kepada bapak saya, "Bapak, saya tahu bahwa opung sedang sakit-sakitan, tapi kita harus percaya bahwa Tuhan ada dengan kita. Tuhan akan menolong kita, dan kita akan melalui ini bersama-sama. Saya juga mengingatkan bapak saya tentang kata-kata Tuhan dalam Filipi 4:13, "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi aku kekuatan." Saya tahu bahwa bapak saya kuat, dan dia akan melalui ini. Saya juga tahu bahwa Tuhan akan menolong kita semua, dan kita akan keluar dari kesulitan ini dengan lebih kuat dan lebih percaya.

Saya merindukan Opung. Saat ini, saya mendengar bahwa Opung sakit-sakitan, dan saya merasa sangat khawatir. Saya ingin sekali berada di samping Opung, memegang tangan Opung, dan memberikan dukungan kepada Opung. Saya ingat saat-saat indah bersama Opung, saat Opung membimbing saya, mengajar saya, dan mendukung saya. Opung selalu ada untuk saya, dan saya merasa sangat beruntung memiliki Opung seperti Opung. Tuhan berkata dalam Mazmur 41:3, "TUHAN akan memelihara dia dan membuatnya hidup; ia akan dibuat bahagia di bumi, dan janganlah Engkau menyerahkannya kepada kemauan musuhnya." Tuhan akan memelihara Opung, dan membuatnya sembuh dari sakit ini. Saya juga mengingat kata-kata Tuhan dalam Yesaya 40:31, "mereka yang menanti-nantikan TUHAN akan mendapat kekuatan baru; mereka akan naik dengan sayap seperti rajawali, mereka akan berlari dan tidak menjadi lelah, mereka akan berjalan dan tidak menjadi lemah." Tuhan akan memberikan Opung kekuatan baru, dan Opung akan sembuh dari sakit ini. Saya merasa sangat jauh dari Opung saat ini, tetapi saya tahu bahwa Tuhan selalu ada untuk Opung. Saya akan terus berdoa untuk Opung, dan meminta Tuhan untuk memberikan Opung kesembuhan dan kekuatan. Dalam 2 Korintus 1:3-4, dikatakan, "Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami dapat menghibur mereka yang berada dalam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah." Tuhan adalah Allah yang penuh belas kasihan, dan Dia akan menghibur Opung dalam penderitaan ini. Saya percaya bahwa Tuhan akan menyembuhkan Opung, dan Opung akan kembali sehat seperti semula. Saya akan terus mempercayai Tuhan, dan meminta Opung untuk juga mempercayai Tuhan. Saya akan terus merindukan Opung, dan meminta Tuhan untuk memberikan Opung kesembuhan dan kekuatan. Saya akan terus berdoa untuk Opung, dan mempercayai bahwa Tuhan akan melakukan yang terbaik untuk Opung.

 

Ada satu pengalaman yang begitu membekas di hatiku, sebuah momen sederhana namun penuh makna tentang sukacita dan toleransi dalam keluarga. Saat Hari Lebaran tiba, suasana dipenuhi dengan kehangata, tawa, dan kebersamaan. Namun di balik itu, ada perbedaan yang selama ini kami hidupi dengan damai aku dan abang ku dari anak mak tua ku, bahkan adek mamak ku yang perempuan yang paling kecil memiliki keyakinan yang berbeda dengan kami semua, kami memiliki keyakinan sebagai orang yang mengikuti Kristus dan abg ku serta adek mamak ku terbanding terbalik malah memeluk agama muslim. Awalnya, aku sempat merasa ragu. Dalam hati, aku bertanya-tanya, apakah pantas aku mengucapkan Selamat Hari Lebaran kepadanya. Takut jika ucapanku terasa tidak tepat atau bahkan menyinggung. Tapi di sisi lain, aku merasa bahwa sebagai saudara, kasih dan kebersamaan seharusnya lebih besar dari pada perbedaan yang ada. Dengan sedikit keberanian, aku menelefon dan mengucapkan selamat Idul Fitri selamat lebaran ya inanguda dan abg ku. Mereka Tersenyum mendengar aku mengucapkan hal tersebut. Aku pun tersenyum dan berkata dengan tulus, “Bang, Inanguda selamat Hari Raya, ya. Mohon maaf lahir dan batin. Sesaat aku menunggu reaksinya, dan ternyata yang kudapatkan adalah senyum hangat dan abg jugak inanguda ku menjawab ada jel sedikit THR inanguda, dan abg jugak mengatakan itu dan mereka meminta no rek ku. Inanguda dan abg ku menjawab Makasih, ya Boru, Makasih dek, sekalipun kita beda agama tapi tetap kau mau menghubungi abg dan inanguda mu, sekalipun kau ngambil jurusan reologi kau malah merangkul bahkan gk pernah menjahui inanguda dan abg mu ini, Senang banget aku mendengar begitu. Di momen itu, hatiku terasa penuh. Ada sukacita yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Bukan sekadar karena aku mengucapkan selamat, tetapi karena aku merasakan bahwa hubungan kami tidak dibatasi oleh perbedaan iman. Justru di sanalah kasih kami diuji dan dikuatkan. Aku menyadari bahwa toleransi bukan hanya konsep yang sering dibicarakan, tetapi sesuatu yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Menghormati, menghargai, dan tetap menunjukkan kasih adalah bentuk toleransi yang paling sederhana, namun paling bermakna. Dan dari pengalaman itu, aku belajar bahwa sukacita sejati muncul ketika kita mampu mengasihi tanpa syarat. Pengalaman ini juga mengingatkanku pada firman Tuhan dalam Alkitab: Sedapat dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang. Roma 12:18 Ayat ini seakan menegaskan bahwa sebagai manusia, kita dipanggil untuk membawa damai, termasuk di tengah perbedaan. Bukan memaksakan kehendak, tetapi menghadirkan kasih. Selain itu, ada juga firman yang sangat menyentuh hatiku: Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. 1 Korintus 13:4 Dari ayat ini aku belajar bahwa kasih sejati tidak mengenal batas. Kasih tidak memilih kepada siapa ia diberikan, tetapi mengalir kepada semua orang, termasuk kepada mereka yang berbeda dengan kita. Sejak saat itu, aku tidak lagi ragu untuk menunjukkan sikap toleransi dalam keluarga. Justru aku merasa bersyukur memiliki kesempatan untuk belajar mengasihi dengan cara yang lebih dalam. Sukacita yang kurasakan bukan berasal dari kesamaan, melainkan dari kemampuan untuk tetap bersatu dalam perbedaan. Pengalaman sederhana itu mengajarkanku bahwa keluarga adalah tempat di mana kasih seharusnya tumbuh paling kuat. Dan ketika kasih itu diwujudkan dalam bentuk toleransi, maka di situlah sukacita sejati hadir tenang, hangat, dan penuh damai.

saya masih ingat hari ketika tagihan uang kuliah itu datang, terasa seperti beban yang jatuh tepat di dadaku. Angkanya tidak hanya sekadar deretan digit, tetapi seperti pengingat akan keadaan keluargaku yang sedang berjuang. Orang tuaku tidak pernah benar-benar mengatakan bahwa mereka kesulitan, tetapi aku bisa melihatnya dari cara mereka berbicara yang lebih pelan tentang uang, dari keputusan keputusan kecil yang berubah, dari pengorbanan yang tidak pernah mereka sebutkan. Setiap kali aku duduk di kelas, ada perasaan bersalah yang diam diam muncul. Seharusnya aku fokus belajar, tetapi pikiranku sering melayang: aku selalu bertanyak dalam hati ku Bagaimana kalau aku tidak bisa lanjut semester depan? atau Apakah semua ini terlalu berat untuk keluarga kami? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar tanpa henti, membuatku merasa lelah bahkan sebelum hari benar-benar dimulai. Di rumah, suasana juga berubah. Kami masih tertawa, masih makan bersama, tetapi ada sesuatu yang berbeda seperti ada kekhawatiran yang disembunyikan di balik senyuman. Aku pernah mendengar dari abang ku bahwasannya orang tuaku berbicara pelan di malam hari, mencoba mencari cara agar aku tetap bisa kuliah. Saat itu aku sadar, perjuangan ini bukan hanya milikku, tetapi juga perjuangan mereka. Ada momen ketika aku hampir menyerah. Aku berpikir untuk berhenti kuliah sementara, mencari pekerjaan, dan membantu meringankan beban keluarga. Rasanya itu pilihan yang masuk akal. Namun di dalam hati kecilku, ada suara yang berkata bahwa aku tidak boleh berhenti begitu saja. Bahwa semua ini ada tujuannya. Di tengah pergumulan itu, aku mulai belajar untuk berserah. Tidak mudah, karena sebagai manusia aku ingin semuanya jelas dan pasti. Aku ingin tahu bagaimana caranya uang itu akan terkumpul, dari mana datangnya, dan kapan masalah ini akan selesai. Tetapi perlahan aku mengerti, bahwa tidak semua hal harus aku kendalikan. Aku mulai berdoa dengan lebih jujur. Bukan lagi doa yang penuh kata-kata indah, tetapi doa yang sederhana: Tuhan, aku takut. Aku tidak tahu harus bagaimana. Tolong aku. Dan di saat saat seperti itu, ada ketenangan yang sulit dijelaskan. Masalahnya belum hilang, tetapi hatiku tidak lagi seberat sebelumnya. Aku juga mulai melihat hal hal kecil sebagai bentuk pertolongan dimana awal aku masuk kuliah 2 orang abg saya yang bantu uang kuliah, akan tetapi ketika adek saya mau tamat SMA adek saya mengatakan bahwasannya dia ingin melamar tentara, besar pengorbanan adek saya, yang dimana dia mencobak untuk mengalah yang dulunya dia ingin SMAnya ditaruna, tapi dia mengatakan ke saya dan orang tua saya bahkan ke abg saya, dia mengatakan mak, pak, bang, biarlah aku SMA di Negri biarlah kakak dulu yang kalian bantu, tapi kalaupun kakak belum siap, aku siap menunggu kakak untuk selesai kuliah, disitu saya gak bisa menahan air mata saya melihat pengorbanan adek saya yang mau ngalah sementara dia anak laki laki, tapi dia berusaha supaya kakaknya masa depannya bisa tercapai, dan adek saya yang bantu memberi uang jajan saya, adek saya ikut kerja, seperti bongkar kandang ayam, bersihkan kandang ayam, dan ikut kerja menjaga kandang ayam sampai jam 5 pagi baru pulang dari jaga kandang ayam, disitu saya terharu, sampai adek saya bilang ada uang mu kak, kalau gk ada jangan kakak tahan, bilang aja aku kak, selalu bilang ke adek ada dek, bahkan aku mencobak mendownload aplikasi yang bisa mengahsilkan uang yah walaupun sedit tapi itu sangat cukup bagi saya, bahkan saya kepengen membelik bedak, saya kumpulkan uang yang dikasih abg dari bulan 1 sampai bulan 3, saya berusaha untuk hemat, itulah alasan saya gk sukak boros, karna saya jugak pernah merasakan sakitnya kerja, kami bantu orang tua kami kerja diladang orang, saya bantu mendorongkan buah pakai angkong, jadi itu yang membuat saya bertahan sampai sekarang, sekalipun banyak masalah saya silih berganti, karna saya ingat pengorbanan, bahkan ketulusan hati adek saya mau mengalah demi saya, bahkan kekuatan untuk tetap bertahan setiap hari. Semua itu membuatku percaya bahwa aku tidak berjalan sendirian. Salah satu ayat yang terus menguatkanku adalah Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. (1 Petrus 5:7) Ayat ini menjadi pengingat bahwa aku tidak harus memikul semuanya sendiri. Bahwa ada Tuhan yang peduli, yang melihat setiap air mata, setiap kekhawatiran, dan setiap usaha yang aku lakukan. Hari ini, mungkin aku masih berada dalam pergumulan yang sama. Keadaan belum sepenuhnya berubah. Tetapi aku berubah. Aku belajar untuk tetap melangkah meski takut, untuk tetap berharap meski keadaan belum pasti, dan untuk percaya bahwa di balik semua ini, Tuhan sedang bekerja dengan cara Nya sendiri. Dan mungkin, suatu hari nanti, aku akan melihat kembali masa ini bukan sebagai beban, tetapi sebagai bukti bahwa aku pernah bertahan dan tidak pernah ditinggalkan.

Hari ini, aku merasa sangat beruntung bisa membaca teks Alkitab dan merenungkannya dalam kehidupan sehari-hari. Aku sadar bahwa aku tidak sendirian dalam perjalanan ini, karena Tuhan selalu ada di sampingku.Aku membaca Matius 5:44, "Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." Aku merasa tertantang untuk mengaplikasikan ayat ini dalam kehidupan sehari-hari. Aku sering kali merasa sulit untuk mengampuni orang yang telah menyakiti aku, tapi Tuhan mengingatkan aku bahwa aku juga telah diampuni oleh-Nya.Aku juga membaca 1 Korintus 13:13, "Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan, dan kasih; tetapi yang paling besar di antaranya adalah kasih." Aku sadar bahwa kasih adalah hal yang paling penting dalam kehidupan Kristen. Aku harus mengasihi orang lain seperti Tuhan mengasihi aku.Aku merasa bahwa Tuhan ingin aku menjadi garam dan terang di dunia ini. Aku harus menjadi contoh kasih dan pengampunan bagi orang lain. Aku tidak bisa melakukan ini sendirian, tapi dengan bantuan Tuhan, aku bisa melakukannya.Aku berdoa agar Tuhan membantu aku untuk mengaplikasikan ayat-ayat ini dalam kehidupan sehari-hari. Aku ingin menjadi orang yang lebih baik dan lebih seperti Tuhan.Tuhan, terima kasih atas kasih dan pengampunan-Mu. Tolong bantu aku untuk menjadi contoh kasih-Mu di dunia ini. Amin.Aku merasa damai dan tenang setelah membaca teks Alkitab hari ini. Aku tahu bahwa Tuhan selalu ada di sampingku dan akan membantu aku dalam perjalanan ini.

Dimana saya membuat diri saya tenang, Tapi sebenarnya, di dalam hati saya lagi banyak pikiran. masalah keluarga keluarga, masalah opung, dan memikirkan kapan saya tamat sementara adek saya sebentar lagi mau tamat SMA, saya gk mau orang tua saya terbebani dalam ke uangan, saya gk mau harapan dan cita cita adek saya tertunda gara gara saya, saya sering merasa sendirian, walaupun di sekelilingnya saya banyak orang. Suatu hari, saya pulang kuliah dengan perasaan capek banget. Bukan cuma capek fisik, tapi juga capek hati. Sampai di kamar, saya rebahan sambil lihat plafon, dan dalam hati saya bilang, Tuhan, aku harus gimana sih? Tuhan jadinya aku nantik jadi pendeta? Tuhan aku belum bisa ngasih apa apa ke orang tua ku, mampukan aku Tuhan membayar keringat orang tua ku melalui kesuksesan ku, Tuhan berdiri didepan Tapi aku merasa sendiri saya merasa doa saya seperti gak didengar. Karena bingung, saya ambil Alkitab. saya buka secara acak, dan saya carik ayat yang menyentuh didalam pergumulan saya, mata saya tertuju ke pada satu ayat yang terambil dari Filipi 4:6-7: “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Awalnya saya cuma baca sekilas. Tapi makin saya baca terus menerus, saya mulai mikir, Berarti selama ini saya terlalu banyak khawatir, tapi jarang benar benar cerita sama Tuhan. saya sadar, selama ini saya lebih sering menyimpan semuanya sendiri. Akhirnya malam, saya coba hal yang sederhana. saya mulai berdoa, bukan doa yang formal, tapi seperti curhat. saya cerita semua rasa takut gagal, bahkan rasa kecewa saya. saya ngomong apa adanya, tanpa dibuat buat. memang masalah saya belum langsung selesai. keadaan keluarga juga belum berubah. Tapi anehnya, hatinya saya terasa lebih tenang. Seperti ada beban yang dilepas sedikit demi sedikit. Hari-hari berikutnya, saya mulai membiasakan hal itu. Setiap kali merasa cemas, saya ingat ayat tadi. saya belajar untuk gak menahan semuanya sendiri, tapi menyerahkan kekhawatiran saya kepada Tuhan. Kadang saya masih khawatir, tapi sekarang saya tahu harus bawa itu ke dalam doa, serta harus sabar dalam menjalani proses yang saya jalani.

Selalu aku bertanyak selalu saya mengatakan kepada Tuhan kenapa Tuhan aku terus yang harus melewati masalah terus menerus, apakah cuman aku Tuhan yang harus melewati masalah masalah, disini saya terpukul hati dan pemikiran saya melalui nast Alkitab Ayub 23:10. Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas, aku percaya rencana Tuhan lebih indah dari rencana rencana yang telah lama aku susun dan aku fikirkan.

Matius 10:7 Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Dengan nast ini saya diajarkan untuk bisa menjadi seorang pelayan Tuhan Yang sungguh dengan memberitakan injil kepada orang orang Yang belum mendapatkan injil tentang Yesus

Matius 6:7 Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. mereka menyangka bahwa karena banyak kata kata doanya akan dikabulkan, melalui nast Alkitab ini saya percaya bahwasnnya ketika ketika kita tulus berdoa itulah yang berkenan bagi Tuhan bukan dengan doa yang panjang dan menarik kata katanya, namun doa yang tulus dari hati dan doa dan berdoa yang tidak banyak tuntutan dan didalam setiap doa saya yang paling penting adalah kedua orang tua.

Gambar
 

Mazmur 147:3 : Ia menyembuhkan orang orang yang patah hati dan membalut luka luka mereka. dimana saya percaya dengan nast alkitab ini ketika saya merasakan ketika saya merasakan kecewa dan merasakan sakit saya percaya Tuhan menyembuhkan semuanya menjadi sukacita

 

Puji Tuhan di Dimana Tuhan memberikan saya kesempatan untuk mengikuti seminar SPIK 6 Reformed, saya percaya dengan 1 firman Tuhan yang mengatakan dalam Roma 15: 13 Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dalam segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah limpah dalam pengharapan. saya yakin dan percaya setiap harapan pasti ada jawaban

Gambar
 

Yesaya 41: 13 berkata: sebab Aku ini, Tuhan, Allah mu memegang tangan kanan mu dan berkata kepada mu janganlah takut, Akulah yang menolong engkau. dimana ayat ini meneguhkan saya dalam menjawab soal soal ujuan Theologi PB hari ini, saya percaya dengan kata kata orang bijak yang mengatakan usaha tidak akan menghianati hasil sama semperti nast alkitab ini Tuhan akan menolong kita namun kita jugak harus berusaha untuk mencarik dan mendapatkannya

Gambar
                                                                       

mazmur 119:73 Tangan Mu telah menjadikan aku dan membentuk aku, berilah aku pengertian, supaya aku dapat belajar perintah perintah Mu, saya sangat bersyukur dimana Tuhan menjadikan saya sok sok orang yang dewasa sehingga Tuhan membentuk iman saya dari setiap masalah masalah yang ada didepan saya, hanya satu yang selalu saya mintak sama Tuhan melalui Doa saya, Yaitu Tuhan berikan saya roh hikmat kebijaksanaan agar saya dapat menyikapi masalah masalah yang terjadi dlam diri saya.

Gambar
 

saya sangat berpegang teguh pada nast alkitab yang tertulis dalam amsal 4: 4 firman Tuhan berkata aku diajari ayahku, kepada ku, Biarlah hati mu memegang perkataan ku. berpeganglah pada petunjuk petunjukku, maka engkau akan hidup, disini saya teringat pesan bapak saya yang mengatakan kepada saya, capailah cita cita mu jangan karna untuk membahagiakan kami orang tua mu, tapi capailah cita cita mu terapkan dalam hidup mu untuk merubah hidup mu, bapak saya pernah berkata, kami akan berjuang semampu kami untuk melakukan yang terbaik bagi kalian anak anak kami, tapi kesuksesan kalian itu kalian lah yang menentukan kemana kalian ingin pergi dan melangkah

Gambar
 

saya tadi pagi menyampaikan renungan yang dimana poin yang paling mendasar dari firman yang sampaikan tentang memikul salib ialah mengenai tentang iman dimana saya mengambil nast alkitab dalam markus 4:31 firman Tuhan berkata hal kerjaan itu seumpama biji sesawi yang ditabur ditanah. memang biji itu yang paling kecil dari pada segala jenis benih yang ada di bumi. sama seperti gambar dibawah ini, 1 batu diibaratkan seperti iman, dan 3 batu diibaratkan dengan masalah masalah yang kita hadapi, sebanyak apapun pergumulan kita kalau kita memiliki iman yang besar kita dapat menyeimbangkan antara iman dalam menghadapi masalah yang ada, akan tetapi kalau iman kita kecil dan lemah kita tidak dapat menyeimbangkan masalah masalah yang terjadi dalam hidup kita.

Gambar